• logo nu online
Home Warta Berita Aktual Kabar Nahdliyin Khutbah Badan Otonom Bahtsul Masail Pesantren Ulama NU Opini
Selasa, 6 Desember 2022

Kabar Nahdliyin

Pengurus Senior Masjid Agung Baiturrahman Armaya Tutup Usia

Pengurus Senior Masjid Agung Baiturrahman Armaya Tutup Usia
Almarhum H. Abdul Kadir Armaya sosok figur yang selalu tamoil sederhana, arif, dan tidak mau merepotkan orang lain (Foto: NUOB)
Almarhum H. Abdul Kadir Armaya sosok figur yang selalu tamoil sederhana, arif, dan tidak mau merepotkan orang lain (Foto: NUOB)

Banyuwangi, NUOB

Pengurus senior Masjid Agung Baiturrahman Abdul Kadir Armaya meninggal dunia pada hari ini dalam usia 92 tahun pukul 8 pagi di kediamannya Jalan Citarum, Kemasan, Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi.

Pesan duka itu disampaikan sahabat karib Armaya, Achmad Syafi'i Sanusi melalui pesan singkatnya pada Ahad, 26 Juni 2022.

"INNA LILLAHI WAINNA ILLAHI ROJIUN, telah pulang ke rahmatulloh Haji Abdul Kadir Armaya, Jama'ah Tetap Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi, dimakamkan hari Ahad ini, di pekuburan depan Madrasah Raudlotul Ulum, berangkat dari rumah duka Jalan Citarum jam 12 siang. Dari Keluarga Drs Moelyadi," tulis Ahmad.

Lebih lanjut, saat ditemui langsung pasca prosesi pemakaman, Ahmad mengungkapkan, Armaya sempat menjadi Sekretaris Umum di Masjid Agung Baiturrahman (MAB).

"Beliau sosok yang selalu disiplin dalam tindakan dan terkesan kaku dan tanpa tawar-menawar pada kondisi kebenaran walaupun itu pahit," jelas Ahmad menjelaskan saat kenangan bersamanya.

Dia pun mengakui, Armaya adalah sosok pahlawan bagi umat islam. Pasalnya mendiang menjadi kunci sukses perjuangan pengembalian aset Islamic Center, Tukangkayu, Kec. Banyuwangi. Dengan memperolehnya data-data autentik mengenai kepemilikan tanah tersebut.

"Saat berkiprah di MAB, Armaya juga sebagai pembina teater Himpunan Anak Muda Masjid Baiturrahman Banyuwangi (Hammba) yang berhasil tampil memukau di Bali. Masih ditambah beliau sebagai inisiator lahirnya buletin suara hamba, yang kini terbit bulanan berubah nama Buletin Baiturrahman (mengikuti nama masjid)," jelas Ahmad yang juga dirinya sempat menjadi Bendahara Umum MAB.

"Semoga atas seluruh darma baktinya selama hidup diterima Allah SWT. Dan seluruh khilaf dan kesalahan senantiasa mendapatkan pengampunan-NYA," Harap Ahmad menutup penjelasannya kepada NU Online.

Sementara esais kawakan di Banyuwangi, Samsudin Adlawi di dalam tulisannya (Bunga Rampai Esai Armaya Fajar Kebudayaan Banyuwangi) mengenal mendiang sebagai sosok budayawan yang penyair Banyuwangi.

"Tepatnya Armaya adalah puisi dan prosa hidup. Melihat Armaya sama dengan membaca puisi dan prosa," tulis Samsudin.

Kalau Armaya muda begitu menggebu-gebu bersastra di Solo, maka Armaya tua kini punya cara lain untuk menjaga agar sumur intuisinya tidak kering. "Ia pun aktif sebagai aktivis MAB. Kesibukan yang memperkaya pengalaman rohaninya," kenang Samsudin dalam tulisannya.

Saat proses shalat jenazah di Mushala Hidayatul Umam atau dikenal Langgar Kawak dengan berjubel warga Banyuwangi dari seluruh kalangan. Seluruh pengantar merasa kehilangan sosok figur yang selalu tampil sederhana, arif, tidak neko-neko, dan tidak mau merepotkan orang lain.


Kabar Nahdliyin Terbaru