• logo nu online
Home Warta Berita Aktual Kabar Nahdliyin Khutbah Badan Otonom Bahtsul Masail Pesantren Ulama NU Opini
Jumat, 1 Juli 2022

Opini

Refleksi Hari Lahir Pancasila dan Tahlil 7 Hari Wafatnya Guru Bangsa Tercinta

Refleksi Hari Lahir Pancasila dan Tahlil 7 Hari Wafatnya Guru Bangsa Tercinta
Refleksi Hari Lahir Pancasila dan Tahlil 7 Hari Wafatnya Guru Bangsa Tercinta (Foto: NUOB)
Refleksi Hari Lahir Pancasila dan Tahlil 7 Hari Wafatnya Guru Bangsa Tercinta (Foto: NUOB)

Banyuwangi, NUOB

Berbicara Pancasila yang sejak di sahkan pada sidang PPKI 18 Agustus 1945 tidak terlepas dari Kerajaan Majapahit, yang menjadi akar Pancasila dan Kerajaan Blambangan merupakan bagian pecahan dari kerajaan pada era keruntuhannya itu sendiri.
 

Secara historis arti Pancasila di dapat dari perpustakaan Buddha di India yang bersumber dari kitab Suci Tri Pittaka, yang berisi ajaran moral untuk mencapai Nirwana melalui Samadhi, dan setiap golongan berbeda kewajiban moralnya.
 

Ajaran moral tersebut dikenal dengan Dasasyiila, Saptasyiila dan Pancasyiila. Dalam perkembangannya istilah Pancasila masuk khazanah kesusatraan Jawa kuno pada zaman Majapahit di bawah pemerintahan prabu Hayam  Wuruk dengan Maha Patih Gajah Mada.
 

Istilah Pancasila terdapat dalam kitab Negara Kertagama yang berupa syair pujian ditulis oleh pujangga istana Mpu Prapancaa yaitu terdapat pada pupuh 53 bait 2, yang berbunyi “ Yatnanggegwani Pancasyiila Kertasangka Rabhi Sakakrama, yang artinya Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan (pancasila) itu, begitu pula upacara-upacara adat dan penobatan-penobatan. Kemudian setelah Majapahit runtuh dan islam mulai menyebar keseluruh Nusantara, istilah tersebut berubah diganti dan dikenal dengan Mo Limo.
 

Badan Student Crisis Center(SCC) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Peajar Nahdlatul Ulama (IPNU) kabupaten Banyuwangi bersama Pelajar dan pemuda Lokal merasa perlu menggelar tahlil untuk Guru Bangsa memperingati 7 Hari Wafatnya Buya Syafii Maarif yang dikenal sebagai Pemikir Bangsa dan Cendikiawan Bersahaja .
 

Ia adalah sosok Cendikiawan dan juga pernah menuliskan karya-karya monumental salah satunya adalah Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara.
 

Ditengah ramainya  pemboikotan oleh ekstrimis dan kelompok-kelompok anti Pancasila, Buya Syafii Maarif Muncul sebagai sosok Solutif dan Ia pernah mengatakan, "sudah tidak relevan lagi mempertentangkan antara Islam dan Pancasila karena Pancasila sudah menjadi  konsensus yang disepakati dan jalani bersama. Justru yang menjadi PR adalah membawa nilai-nilai Pancasila membumi".
 

Di era digital yang arus komunikasi dan interaksi semakin mudah, cepat dan pesat ini, kita ketahui bersama bagaimana Anak Bangsa yang semestinya terdidik,  yang kelak memikul tanggungjawab kemajuan peradaban.
 

Sering kita jumpai dimedia massa, online bahkan menyaksikan didepan mata kita sendiri fakta yang meresahkan dengan maraknya kasus penyimpangan moral dan  etika seperti Pornografi, asusila, Narkoba, tawuran antar pelajar  yang kesemua itu bertentangan dengan nilai Pancasila untuk menjadi bangsa yang bermartabat.

Jika hal tersebut terus dibiarkan tanpa adanya netralisir maka sama saja Pemerintah telah menggali kuburannya sendiri. Sudah sepatutnya ada gerakan strategis dan taktis untuk mengakomodasi itu semua terutama pengerahan penuh institusi Pemerintah yang terkait dalam hal tersebut.
 

Padahal jika ditelisik lebih kebawah, bahwa banyak komunitas maupun organisasi berlandaskan Pancasila yang sudah bergerak dan bergrilya dalam menunjukkan pembumian nilai-nilai Pancasila ditengah-tengah Masyarakat.

Namun bisa jadi karena masih pasifnya sinergi sehingga dalam mengatasi masalah-masalah tsb. Kurang efektif dan efisien. Semoga besar harapan di hari Lahir Pancasila tahun 2022 menjadi Tahun harmoni untuk mewujudkan pembangunan Nasional lewat Pencerdasan Anak Bangsa yang mengemban nilai-nilai Pancasila dan dapat membumikannya sehingga Guru Bangsa yang telah berpulangpun tetap akan Bangga di akhirat kelak bahwa apa yang Ia idam-idamkan selama masih hidup dan belum terwujudkan dapat di sukseskan oleh Pelajar Generasi Penerus Bangsa sekarang. (Miswan)


Editor:

Opini Terbaru