• logo nu online
Home Warta Berita Aktual Kabar Nahdliyin Khutbah Badan Otonom Bahtsul Masail Pesantren Ulama NU Opini
Rabu, 17 Agustus 2022

Ulama NU

Mengenal Asal-Usul Istilah Halal Bihalal Gagasan Kiai Wahab

Mengenal Asal-Usul Istilah Halal Bihalal Gagasan Kiai Wahab
Kiai Wahab adalah penggagas dari tradisi halal bihalal. (Foto: NUOB/NU Network)
Kiai Wahab adalah penggagas dari tradisi halal bihalal. (Foto: NUOB/NU Network)

Kegiatan halal bihalal yang marak dilakukan saat Lebaran Idul Fitri tahun ini sebenarnya memiliki sejarah panjang. Dan yang menggagas adalah tokoh nasional, KH Abdul Wahab Chasbullah atau Kiai Wahab.


KH Masdar Farid Mas'udi memberikan catatan terkait asal-usul dari istilah halal bihalal ini. Berikut penjelasannya:


Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi di mana-mana, di antaranya gerakan Darul Islam (DI) atau Tentara Islam Indonesia (TII), Partai Komunis Indonesia atau PKI Madiun.


Pada tahun 1948, yaitu di pertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Abd Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahim.


Lalu Bung Karno menjawab: "Silaturahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain." "Itu gampang," kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah 'halal bihalal," jelas Kiai Wahab.


Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim yang diberi judul 'Halal Bihalal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.


Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halal bihalal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat Muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah halal bihalal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat hari raya Idul Fitri seperti sekarang.


Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya.

  

Kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah halal bihalal, meskipun esensinya sudah ada. Tapi istilah halal bihalal ini secara nyata dicetuskan oleh KH Abd Wahab Chasbullah dengan analisa pertama yakni thalabu halâl bi tharîqin halâl yakni mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua yaitu halâl "yujza'u" bi halâl adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan. 


Ulama NU Terbaru