Kiai Ahmad Baso menerangkan proses islamisasi di Nusantara

Kajian-kajian Naskah Nusantara Harus Diperbanyak

Banyuwangi, NUOB – Para waliyullah mengajarkan agama dengan ekspresi kebudayaan Indonesia itu sendiri. Mulai dari; seni, musik, kisah-kisah populer, hingga kesustraan.

Hal pembuka yang disampaikan oleh penulis buku “Islamisasi Nusantara”, Kiai Ahmad Baso saat memberikan materi di acara bedah buku “Islamisasi Nusantara” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pegon di Mushala Kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (25/12) malam.

Kiai Ahmad Baso menerangkan, semua ekspresi kebudayaan itulah yang menjadikan abadi dan mampu memberikan daya dukung energi penopang berdirinya Negara Indonesia yang merdeka. “Bukan Islamnya para politisi yang terasing dan kehilangan akar-akar kekayaan budaya mereka sendiri,” tegasnya.

Penulis yang kini tinggal di CIputat, Tangerang Selatan ini menuturkan, hadirnya buku “Islamisasi Nusantara” memberikan penerangan kembali kepada para pembaca akan jejak perjuangan para orang-orang Arab Quraisy di masa Khalifah Usman bin Affan hingga kemunculan Wali Songo di Jawa pada abad 14-15 yang sengaja digelapkan oleh sejarawan,

“Banyak sekali ditemukan analisis berbisa di beberapa literatur, bak racun dibungkus klaim ilmiah tentang keberislaman dan kenusantaraan kita. Karena itu, kajian-kajian naskah Nusantara kita harus terus menerus diperbanyak, disebar, dan disosialisasikan,” pesan Kiai Baso.

Salah satu peserta perwakilan dari Ranting NU Pandirejo Imam mengaku sangat beruntung dengan kehadirannya di acara bedah buku kajian seperti ini. “Banyak khazanah keluasan dakwah islam nusantara yang masih baru saya ketahui sejauh ini,” ungkap Imam.

ia berharap kajian-kajian seperti ini perlu adanya keberlanjutan secara intens dengan melibatkan masyarakat yang lebih luas. “Karena tidak menutup kemungkinan masih banyak kalangan Nahdliyin di akar rumput belum mengetahui sejarah keluhuran perjuangan nenek moyangnya secara fasih dan benar. Saya sangat bersyukur bisa hadir. Alhamdulillah,” tutup Imam.

Kajian bedah buku itujuga diikuti dengan mayoritas kalangan milenials di Banyuwangi. Selain dihadiri langsung oleh beberapa delegasi pengurus dan anggota ranting-ranting NU. Berjalannya kajian itu juga dipimpin langsung oleh Founder Komunitas Pegon, Ayung Notonegoro. (M. Sholeh Kurniawan

 

 

 

 

Comments

comments

Check Also

LAZISNU Muncar Santuni Yatim- piatu di Haul Raden Darissalam

MUNCAR, NUOB – Tiada hari tanpa berbagi. Lembaga Amil Zakat dan Sodaqoh NU (LAZISNU) kembali …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *