Santapan Langit

Sahdan, tatkala Isa al-Masih melihat para muridnya lapar, ia minta makan kepada Tuhan. Mukjizat itu ada dan nyata! Hidangan turun dari langit. Manusia menyantap hidangan langit itu dengan suka cita.

Ketika di tangannya roti tinggal sepotong, Isa al-Masih memotong-motongnya. Ia bagikan potongan-potongan roti itu pada ratusan orang. Sepotong roti itu tak pernah habis, tetap utuh meski telah dipotongnya ratusan kali untuk dibagikan pada ratusan orang yang benar-benar kelaparan. Itulah kiranya “roti Tuhan” atau “roti langit” yang kekal-abadi kelezatannya.

Mukjizat menggemparkan itu diabadikan dalam Qur’an dengan salah satu nama suratnya: “al-Maidah” (Hidangan).

Dan puasa sejatinya bukan perkara tidak makan, minum, dan seks. Tapi, puasa. Menurut utusan-Nya, ialah kemampuan mengendalikan diri di tengah haus, dahaga, atau dalam keterasingan, saat kebutuhan hidup tak didapat dan tak dikonsumsinya, dalam mengendalikan ucapan dan perbuatan: “al-imsak ‘an ayyi-fi’lin au-qaulin-kana”. Bukan semata-mata menolak kebutuhan tubuh.

Tatkala makanan-minuman ditolak tubuh dan tak ada hubungan seksual yang dilakukan tubuh selama terbit fajar hingga terbenam matahari, itulah pengekangan tubuh. Belum jiwa. Itu barangkali kenapa, setiap tiba berbuka puasa pelbagai jenis makanan dikonsumsi. Bulan puasa membengkakkan keperluan makan-minum, mall dan supermarket lebih ramai dari bulan lain, menguntungkan para kapitalis atau cukong.

Kenapa orang puasa gemar mengonsumsi banyak makanan, hasrat konsumtif terangsang ketika berbuka? Tak lain karena seharian tubuh dikerangkeng (bukan setan yang harusnya dikerangkeng). Ketika kerangkeng tubuh dilepaskan pada terbenamnya matahari, tubuh melakukan balas dendam sebebasnya.

Sejatinya puasa, menurut utusan-Nya, adalah perlakuan pada jiwa. Bukan tubuh. Jiwa tak memerlukan makan dan minum sebagaimana tubuh. Tubuh berdamai dengan jiwa, ikut tak butuh makan-minum dalam puasa. Kenapa tubuh dibatasi? Karena daya tubuh terbatas. Jiwa tak terbatas. Tubuh membutuhkan makanan bumi. Tapi, jiwa membutuhkan makanan langit, makanan yang turun dari langit bagai hidangan Tuhan pada Isa al-Masih.

Metafora menarik! Lantaran Nabi Muhammad pernah mengingatkan: “banyak di antara manusia berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga”.

Artinya, hanya tubuh yang ditempa. Bukan jiwa! Sehingga hanya lapar dan dahaga belaka yang tubuh rasa. Nasehat Rasul itu menegaskan, puasa adalah laku jiwa, yakni menahan amarah, merundukkan diri, menundukkan sahwat, agar diharapkan diri merasakan derita jiwanya dan sesamanya. Tanpa dapat merasakan penderitaan jiwa, tiap pengentasan dan pertolongan bagi yang menderita hanya akan berupa omong kosong dan basa-basi belaka, tanpa pengertian kemanusiaan yang mendalam.

Jiwa tak membutuhkan santapan bumi. Jiwa memerlukan santapan langit. Sahur bukan soal makanan bumi, tapi “makanan langit”. “Makanan bumi” adalah roti, es blewah, mall, supermarket, dan entah apa lagi. Tapi, “makanan langit” adalah kesadaran kemanusiaan, kesabaran, ketabahan di hadapan penderitaan, keberserahan pada Tuhan dalam segala upayanya mengolah, mensyukuri, dan menciptakan kesejahteraan hidup.

Pada sepertiga malam (dini hari) itu, Tuhan turun ke bumi. Mungkinkah Tuhan turun ke bumi melewati ruang dan waktu? Teks suci tak selalu dapat diharfiahkan. Tapi, teks suci ini menegaskan; siapa yang membangkitkan kesadaran kemanusiaannya dengan perhatian dan kasih-sayang, ia telah menumbuhkan nilai-nilai ketuhanan dalam jiwanya. Itulah kiranya “santapan langit” yang hanya dapat dimakan oleh jiwa, Sahur-nya orang yang berpuasa di bulan Ramadan. Tubuh mengikuti jiwa, ia ikut bersantap santapan bumi di meja makannya. Karena jiwa telah kenyang, maka tubuh tak memerlukan makanan dan minuman yang melampaui kemampuan tubuh itu sendiri. Sebab jiwa telah merasakan derita dengan kesadaran kemanusiaannya. Jiwa menahan atau menghentikan (as-shaum/puasa) dari kerakusan, kerusakan, kekejian.

“Wahai orang yang berselimut”
—dipanggil jiwa-raga.
“Bangunlah dengan kesadaran”
—kesadaran yang merupakan ingatan dan jiwa-raga (fa-andzir).
“Dan Tuhanmu agungkanlah”
—agungkanlah dirimu dengan kepribadian luhur yang hanya mungkin ditempuh dengan kesadaran (fa-andzir), agar menyadari keagungan-Nya dalam keagungan cinta-kasih pada ciptaan-Nya.
“Dan bersihkanlah pakaianmu”
—bersihkanlah jiwa-raga dan perbuatanmu, yakni “baju”: simbol kemanusiaan. Manusialah satu-satunya makhluk yang berbaju (berbudaya dan beradab).
“Tinggalkan segala kekejian”
—dan seterusnya (QS. al-Mudatsir).

“Santapan langit” dalam ayat ini boleh jadi menu sahur dan berbuka puasa. Berbuka: membatalkan kehendak dengan kesadaran akan keterbatasan. Haus sehari, cukup segelas es teh atau air putih. Lantaran bagi sang jiwa, sedahaga-dahaganya tubuh, akan selesai cuma dengan segelas air. Bukan sungai, gunung, hutan lindung dieksploitasi demi segelas air minum, itu bukan melepaskan dahaga. Tapi rakus, keji, dan bajingan.

Tembok, 2018

*) Taufiq Wr. Hidayat. Seorang budayawan asal Banyuwangi yang aktif menulis. Bukunya yang baru saja terbit berjudul Serat Kiai Sutara (Lareka, 2018)

Comments

comments

Check Also

Renungan di Penghujung Bulan Suci Ramadhan

Oleh : KH. Ahmad Mushtofa Bisri Hari-hari Ramadhan telah kita lalui dengan berbagai kegiatan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *