• logo nu online
Home Warta Berita Aktual Kabar Nahdliyin Khutbah Badan Otonom Bahtsul Masail Pesantren Ulama NU Opini
Rabu, 17 April 2024

Berita Aktual

PCNU Banyuwangi

Apel HSN secara Hibrid, PCNU Banyuwangi Sukseskan Program PBNU

Apel HSN secara Hibrid, PCNU Banyuwangi Sukseskan Program PBNU
PCNU Banyuwangi ikuti apel HSN 2022 secara daring di RSNU Banyuwangi
PCNU Banyuwangi ikuti apel HSN 2022 secara daring di RSNU Banyuwangi

NUOB, Banyuwangi 
Peringatan hari santri nasional (HSN) tahun 2022 dapat dilakukan dengan berbagai ekspresi. Salah satunya menggelar apel hari santri. Apel HSN ini diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul  Ulama (PBNU).

Apel hari santri digelar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur. Pesantren yang didirikan oleh Hadratus Syekh KH. Mohammad Hasyim Asy'ari ini menjadi magnet tersendiri sehingga diikuti lebih dari 10.000 peserta. Dsamping itu, juga diikuti secara hibrid oleh pengurus NU se-Indonesia yang tak kurang dari 12.000 peserta.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional. "Tujuannya tidak lain sebagai penghormatan atas jasa para pahlawan dari kalangan para kiai dan santri," ucapnya saat memimpin apel HSN 2022 di Pesantren Tebuireng, Sabtu (22/10).

Menurut Kiai yang kerap disapa Gus Yahya ini, "Kita patut bersyukur kepada Allah atas takdir-Nya yang membesarkan hati dan kebanggan kita semua yakni, santri Indonesia. Tapi, kebanggaan ini tidak boleh terhenti hanya bangga saja. Kebanggan atas jasa-jasa besar pendahulu kita tidak boleh terhenti pada rasa bangga hati dan percaya diri saja. Apalagi, jangan sampai para santri hari ini merasa berhak untuk menuntut para pendahulu kita," jelas Gus Yahya.

Lebih lanjut, pihaknya menegaskan "Nilai kita, harga kita tidak ditentukan oleh kakek atau kakek buyut kita. Nilai dan harga kita ditentukan oleh perbuatan hari ini dan sumbangan kita kepada bangsa yang kita cintai ini," tegasnya. 

Kata Gus Yahya, "Para pendahulu kita mulia itu karena jasa mereka. Hari ini, kita dapat mulia apabila kita mampu memberikan kontribusi kepada bangsa yang kita cintai ini," ucapnya.

Kata dia, santri tidak boleh menjadi identitas yang bersifat statis atau ekslusif. Menurutnya, santri harus menjadi kader yang dinamis, bergerak dan terus melayani dan mempersembahkan untuk bangsa dan negara Indonesia. 

"Para pendahulu kita mempersembahkan segala-segalanya bahkan juga nyawa. Bukan untuk kepentingan sendiri, kelompok maupun anak cucunya. Para pendahulu kita mempersembahkan segala-segalanya melainkan hanya untuk kepentingan bangsa dan negara," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak, "Tidak ada lain yang patut kita teladani dari para pejuang kecuali berusaha berjuang seperti mereka. Berjuang secara ikhlas untuk kemanusiaan dan bangsa. Hanya dengan cara itu, kita akan memiliki tenaga lahir dan batin yang cukup untuk memikul menjag dan merawat jagat serta peradaban dunia," pungkasnya.  


Editor:

Berita Aktual Terbaru