• logo nu online
Home Warta Berita Aktual Kabar Nahdliyin Khutbah Badan Otonom Bahtsul Masail Pesantren Ulama NU Opini
Kamis, 11 Agustus 2022

Bahtsul Masail

Begini Kebiasaan Nabi Muhammad saat Idul Fitri

Begini Kebiasaan Nabi Muhammad saat Idul Fitri
Ada sejumlah kebiasaan yang dilakukan Nabi ketika Lebaran. (Foto: NUOB/KJr)
Ada sejumlah kebiasaan yang dilakukan Nabi ketika Lebaran. (Foto: NUOB/KJr)

Umat Islam di seluruh penjuru dunia akan segera mengakhiri bulan suci Ramadhan dan berganti dengan Idul Fitri. Seiring dengan itu, aneka kebiasaan dilakukan demi memastikan umat Islam bergembira dan ceria saat lebaran tersebut.


Namun demikian, agar apa yang dilakukan selama merayakan lebaran tersebut bernilai ibadah, maka ada baiknya dan seharusnya menyesuaikan dengan kebiasaan Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian tidak semata bermakna kebaikan, juga berharap meraih pahala.

 

Lalu, bagaimana Rasulullah SAW merayakan hari raya yang jatuh pada 1 Syawal itu? Apa saja yang dilakukan Nabi Muhammad di hari kemenangan umat Islam itu?


Merujuk buku How Did the Prophet & His Companions Celebrate Eid?, Rasulullah dan umat Islam pertama kali menggelar perayaan hari raya Idul Fitri pada tahun kedua hijriyah (624 M) atau usai perang Badar. Dari beberapa riwayat disebutkan bahwa ada sejumlah hal yang dilakukan Rasulullah untuk menyambut dan merayakan hari Idul Fitri.


Pertama, takbir. Diriwayatkan bahwa Rasulullah mengumandangkan takbir pada malam terakhir Ramadhan hingga pagi hari satu Syawal. Hal ini sesuai dengan apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185: Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan) nama Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepadamu, semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur


Kedua, memakai pakaian terbaik. Pada hari raya Idul Fitri, Rasulullah mandi, memakai wangi-wangian, dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya. Kisah ini terekam dalam hadits yang diriwayatkan Al-Hakim.


Ketiga, makan sebelum shalat Idul Fitri. Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang.  Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR Ahmad dan Bukhari)  


Keempat, shalat Idul Fitri. Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga  dan sahabat-sahabatnya –baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri.  Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.


Kelima, mendatangi tempat keramaian. Suatu ketika saat hari raya Idul Fitri, Rasulullah menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan tameng. Bahkan saking asyiknya, sebagaimana hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, Aisyah sampai menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah sehingga dia bisa menyaksikan permainan itu dari atas bahu Rasulullah dengan puas.  


Keenam, mengunjungi rumah sahabat. Tradisi silaturahim saling mengunjungi saat hari raya Idul Fitri sudah ada sejak zaman Rasulullah. Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya. Begitu pun para sahabatnya. Pada kesempatan ini, Rasulullah dan sahabatnya saling mendoakan kebaikan satu sama lain. Sama seperti yang dilakukan umat Islam saat ini. Datang ke tempat sanak famili dengan saling mendoakan.


Bahtsul Masail Terbaru